Sekolah berlogo Islam ternama di Kawasan Bandung Timur, April 2007. Saat itu saya masih duduk dibangku SMP Kelas 9F. Pada waktu itu saya akan menghadapi Ujian Akhir Nasional ( UAN ), beberapa Hari dan Minggu Wakil Ketua Yayasan beserta Stafnya jangan menyontek pada saat UAN dan juga menggemborkan bahwa jangan tertipu daya oleh SMS bocoran yang kerak terjadi pada saat UAN SMA ( saat itu SMA terlebih dahulu yang melaksanakan Ujian ), namun masalah itu saya anggap hal yang biasa ( agar tidak stress kedepannya ).
Hari pertama saat UAN Bahasa Indonesia . Sekelas hanya 20 Peserta, masih aman, tertib, dan lancar ( Masih punya rasa takut ke Pengawas dari luar ), klo saya gambarkan suasananya seperti di Kuburan, heniiing sekali. Dan Alhamdulillah semuanya jujur mengisi jawabanya, termasuk saya juga ( khmm jadi banga? ).
Hari kedua UAN Matematika, keadaan mulai berantakan, karena Pengawasnya menizinkan kita untuk kerjasama ( termasuk saya sendiri ), dengan syarat tidak boleh berisik ( hebat euy, pengawasnya bageur ). Karena siswa sudah terlatih ( untuk mencontek ) jadi mereka menggunakan kode isyarat seakan-akan pengawas yang independent ( yang berkeliling kesetiap kelas ) tidak mengetahuinya.
Hari terakhir UAN Bahasa Inggris, suasana bagaikan Pasar Kaget tapi siswa tetap duduk di bangkunya masing-masing. Saya sendiri juga heran koq bisa ya! Hampir semua siswa menontek lewat kertas, kode isyarat bahkan lewat SMS ( dengan syarat siswa harus menggunakan kartu provider yang murah untuk sms! namanya juga pelajar ). Bahkan membawa kamus digital juga tidak di rampas oleh sang Pengawas.
Mereka yang nyontek berlasan bahwa “Kita 3 tahun hidup bersama di sekolah dan belajarpun bersama, masa teman kita mau di biarkan saja tetap tinggal kelas?” dari sinilah saya seakan-akan ditodong oleh mereka agar saya juga bisa membantu untuk memberikan jawabannya ( bahkan diberi pulsa sms ), gimana saya mau nolak mereka ! Tapi inilah faktanya mau dibuat seperti apalagi.
Saya pernah diceritakan oleh beberapa Guru dekat saya tentang seputar kecurangan-kecurangan yang ada di dalam pelaksanaan UAN, “Bahwa sudah menjadi hal yang wajar jika UAN seperti ini, dan kamu jangan merasa heran atau kaget”. ( Guru kesayangan saya bercerita ). Bahkan disekolah-sekolah lain ada yang lebih parah yaitu, yang pertama sebagian sekolah ada yangcmeminta kunci jawabannya kepihak terkait dengan harga Rp. 7.000.000 untuk setiap Kode soal ( pada saat itu ada 2 Kode soal ) Kedua setiap para pengawas dari luar sebelum UAN berlangsung, pengawas melakukan rapat tertutup dengan pihak Kepala Sekolah untuk membiarkan siswanya berkerjasama. Ketiga pernah di sebuah kawasan di Jabar ( saya rahasiakan tempatnya ), ada rapat tertutup juga untuk kepala sekolah se-kawasan tersebut, hal yang dibicarakan diantaranya untuk memberikan kelonggaran kepada pengawas untuk mengawasi murid saat UAN berlangsung. Keempat sebagian sekolah memberikan peraturan bahwa setiap pengawas tidak boleh jalan-jalan mengawasi setiap siswa dengan wajah pesimis bahkan dimeja pengawas sudah terdapat koran, makanan kecil, dan segelas teh manis/kopi hangat sesuai pesanan sang Pengawas ( seperti Kafe saja ). Bagaimana nanti dipertanggung jawabakan di Akhirat ? ( Jadi yang salah siapa Ya? )
Sistem Ujian yang ada di Indonesia koq seperti ini?, ( ini baru yang saya ketahui, apalagi yang belum ), Artikel bukan untuk merendahkan yang menjalankan sistem ini, tetapi hanya sebagai bahan evaluasi bagi para calon Pengawas/yang menjalankan sistem UAN untuk bulan April nanti, agar Indonesia bebas dari Korupsi Kolusi dan Nepotisme. Amiin
Hari pertama saat UAN Bahasa Indonesia . Sekelas hanya 20 Peserta, masih aman, tertib, dan lancar ( Masih punya rasa takut ke Pengawas dari luar ), klo saya gambarkan suasananya seperti di Kuburan, heniiing sekali. Dan Alhamdulillah semuanya jujur mengisi jawabanya, termasuk saya juga ( khmm jadi banga? ).
Hari kedua UAN Matematika, keadaan mulai berantakan, karena Pengawasnya menizinkan kita untuk kerjasama ( termasuk saya sendiri ), dengan syarat tidak boleh berisik ( hebat euy, pengawasnya bageur ). Karena siswa sudah terlatih ( untuk mencontek ) jadi mereka menggunakan kode isyarat seakan-akan pengawas yang independent ( yang berkeliling kesetiap kelas ) tidak mengetahuinya.
Hari terakhir UAN Bahasa Inggris, suasana bagaikan Pasar Kaget tapi siswa tetap duduk di bangkunya masing-masing. Saya sendiri juga heran koq bisa ya! Hampir semua siswa menontek lewat kertas, kode isyarat bahkan lewat SMS ( dengan syarat siswa harus menggunakan kartu provider yang murah untuk sms! namanya juga pelajar ). Bahkan membawa kamus digital juga tidak di rampas oleh sang Pengawas.
Mereka yang nyontek berlasan bahwa “Kita 3 tahun hidup bersama di sekolah dan belajarpun bersama, masa teman kita mau di biarkan saja tetap tinggal kelas?” dari sinilah saya seakan-akan ditodong oleh mereka agar saya juga bisa membantu untuk memberikan jawabannya ( bahkan diberi pulsa sms ), gimana saya mau nolak mereka ! Tapi inilah faktanya mau dibuat seperti apalagi.
Saya pernah diceritakan oleh beberapa Guru dekat saya tentang seputar kecurangan-kecurangan yang ada di dalam pelaksanaan UAN, “Bahwa sudah menjadi hal yang wajar jika UAN seperti ini, dan kamu jangan merasa heran atau kaget”. ( Guru kesayangan saya bercerita ). Bahkan disekolah-sekolah lain ada yang lebih parah yaitu, yang pertama sebagian sekolah ada yangcmeminta kunci jawabannya kepihak terkait dengan harga Rp. 7.000.000 untuk setiap Kode soal ( pada saat itu ada 2 Kode soal ) Kedua setiap para pengawas dari luar sebelum UAN berlangsung, pengawas melakukan rapat tertutup dengan pihak Kepala Sekolah untuk membiarkan siswanya berkerjasama. Ketiga pernah di sebuah kawasan di Jabar ( saya rahasiakan tempatnya ), ada rapat tertutup juga untuk kepala sekolah se-kawasan tersebut, hal yang dibicarakan diantaranya untuk memberikan kelonggaran kepada pengawas untuk mengawasi murid saat UAN berlangsung. Keempat sebagian sekolah memberikan peraturan bahwa setiap pengawas tidak boleh jalan-jalan mengawasi setiap siswa dengan wajah pesimis bahkan dimeja pengawas sudah terdapat koran, makanan kecil, dan segelas teh manis/kopi hangat sesuai pesanan sang Pengawas ( seperti Kafe saja ). Bagaimana nanti dipertanggung jawabakan di Akhirat ? ( Jadi yang salah siapa Ya? )
Sistem Ujian yang ada di Indonesia koq seperti ini?, ( ini baru yang saya ketahui, apalagi yang belum ), Artikel bukan untuk merendahkan yang menjalankan sistem ini, tetapi hanya sebagai bahan evaluasi bagi para calon Pengawas/yang menjalankan sistem UAN untuk bulan April nanti, agar Indonesia bebas dari Korupsi Kolusi dan Nepotisme. Amiin
(Rizky Febriansyah X-9 SMA N 19 Bandung)
Maret 3, 2008 pukul 7:15 am
deuh..punten nembe ameng k blog rizq..nembe tiasa ngaakses internet deui
Kumaha,,damang?
Eh hilap..assalamu’alaykum wr wb