Maret 2, 2008
Seorang Guru mengingatkan kepada siswa,”Anak-anak besok jangan lupa menghafal dan persiapkan pinsil 2B dan penghapus”. Begitulah kata-kata yang dilontarkan oleh seorang Guru ketika siswa-siswa kelas 9 SMP dan 10 SMA akan menghadapi UAN.
Saat UAN berlangsung para siswa harus memilih jawaban yang tepat dan harus menghitamkan jawabanya dengan banyak syarat-syarat yang bikin tambah rumit contohnya nggak boleh kotor, sobek, terlipat, basah, dan harus bersih. Pengalaman pribadi saya pada tahun 2007 terhadap sistem pengisian lembaran kerja UAN yang kurang bagus dan kurang mengefektifkan waktu.
Dari sekian banyak soal yang diberikan berapa waktu siswa untuk berpikir dan menghitamkan LJK ( Lembar Jawaban Komputer, yang sedang modern tẻa! ) ? Hasil Survey saya terhadap teman sekelas ( Kelas X-9 SMA N 19 Bandung, promosi ! ) bahwa menghitamkan buletan yang terdapat di LJK sangatlah menghamburkan waktu dan dapat mengalihkan konsentrasi para siswa yang sedang UAN menjadi tertuju ke pengisian jawaban, apalagi hitamannya haruslah tebal (supaya komputernya ngak eror) berarti siswa dalam mengisi harus agak ditekan ( hati-hati jangan terlalu ditekan bilih bolong kertasnya! hm… serba salah ya ), metode seperti ini dapat mengakibatkan pengurangan energi dan konsentrasi yang kita miliki apalagi jika salah ngisi hmm… harus dihapus dengan super hati-hati bangeet.
Yang saya harapkan kepada Bapak Menteri Pendidikan Indonesia Bambang Sudibyo, agar mengisi LJK UAN cukup dengan di silang ( X ) agar siswa tetap fokus kepada soal-soal pertanyaan (kan ngak terlalu rumit). Bukankah semakin kesini Tekhnologi semakin berkembang ? Cobalah Pak Menteri untuk membuat System Pembaca Komputer yang sangat sensitive terhadap isi jawaban. ( Kan banyak para mahasiswa Indonesia yang jago dibidang Tekhnologi! coba gunakan hasil karyanya. Jangan pake karya orang Bule terus ).
Nah, jika semuanya mudah dan hemat waktu segalanya jadi serba enak, berfikir dan mengisinya jadi mudah. ( “Gitu aja koq repot”, Gus Pur pun ikut menambahakan )
Rizky Febriansyah X-9 SMA N 19 Bandung
2 Tanggapan |
Uncategorized |
Permalink
Ditulis oleh rizky febriansyah
Maret 2, 2008
Seorang Ikhwan yang bernama Rizal ( Nama Samaran ) hingga kini masih memikirkan bagaimana nasibnya memikirkan kesalahannya yang Ia perbuat kepada seorang Akhwat yang bernama Annisa ( Nama Samaran ). Mereka berdua dulunya adalah seorang teman sekelas yang sangat erat hubungan persahabatan, hingga Rizal mempunyai rasa suka kepada Annisa sejak pandangan pertama ketika bertemu di Kelas pecahan dari beberapa kelas yaitu X – 9 SMA N 19 Nandung, namun Rizal belum mengatakan rasa suka dan cintanya kepada Annisa secara langsung.
Awalnya Rizal ingin meminjam sebuah Novel Ayat – ayat Cinta kepada Khobban, lalu tutur Khobban “Novel tersebut sedang dipinjam oleh Annisa”! Saat Rizal ingin meminjam Novel tersebut kepada Annisa tampaknya Rizal terlalu tergesa-gesa ingin sekali meminjam Novel tersebut. Hari Sabtu adalah hari terakhir Mereka bersekolah karena besok hari Ahad maka Rizal meng-sms Annisa dengan kata-kata yang seolah-olah membentak! karena jum’at sorenya Rizal meng-sms Annisa untuk membawa Novel tersebut taunya Annisa malah mabal ( dari rumah kesekolah, di sekolah tidak ada ), spontan sms yang Rizal kirimkan ke Annisa dengan menggunakan kata-kata yang mempertegas agar Novel milik Khobban, Rizal pinjam.
Saat sms itu telah dikirimkan selang beberapa waktu, sms itu dibalas oleh Annisa tapi menggunakan nomer yang temannya, dengan kata-kata yang balik mempertegas kepada Rizal ditambah sebuah kritik yang yang tidak tepat waktunya. Respek Rizal pun membalas kritikan dari Annisa dengan kata-kata yang lebih pedas, lalu Annisa tidak membalas sms yang Rizal kirimkan.
Setelah sholat Ashr disekolah Rizal berenung dengan sms pedas yang Ia kirimkan kepada Annisa, pada saat itu juga Rizal langsung meminta maaf lewat sms kembali kepada Annisa namun tidak dibalasnya. Rizal tetap sabar untuk mengharapkan kata maaf dari Annisa, sampai-sampai Rizal meminta bantuan orang ketiga yang bernama Puspita untuk membantu menjembatani agar maafnya diterima oleh Annisa, sampai-sampai Rizal mengeluarkan banyak pulsa hp-nya untuk menelephon kepada Puspita agar Annisa mau memaafkannya, Rizal tidak tenang sekali dengan dosanya terhadap Annisa sampai-sampai mau tidur pun masih memirkirkan Dosa yang Rizal lontarkan, bahkan disetiap sholatnya memohon doa kepada Allah agar Annisa mau memaafkannya. Tapi hingga artikel ini Saya tulis belum ada kabarnya bahwa Annisa telah memaafkan Rizal.
Hikmah dibalik semua ini, Kita sering berbuat salah kepada Orangtua, Sahabat, Teman, ataupun yang lainnya sesama makhluk, sampai-sampai rela mengorbankan segala yang Kita miliki demi pengharapannya agar dimaafkan oleh seorang Makhluk Allah. Coba kita balikan bagaimana ketika Kita melakukan kesalahan kepada Allah SWT yang menciptakan Kita hidup di Dunia ini, yang ada hanya sebuah kata Istighfar yang terucap tanpa ada rasa penyesalan yang begitu berarti untuk tidak akan melakukannya kembali. Mengapa seperti ini ? Hal ini karena Kita tidak meyakini Allah itu ada dan selalu ada dihadapan Kita ( always ), coba fikirkan kembali kenapa kalo Kita melakukan kesalahan kepada manusia selalu berusaha mengharapkan dan merelakan segala apa yang Kita miliki demi pengharapannya, karena makhluk itu ada dan akan bertemu kembali saat aktifitas yang Kita jalani. Tetapi jika kepada Allah tidak seperti ini ? Berarti Kita belum meyakini bahwa Allah itu ada, Allah itu dihadapan Kita dan Allah selalu melihat kita. Wallahu’alam bi showab
( Rizky Febriansyah X-9 SMA Negeri 19 Bandung / FORISTIC Indonesia )
2 Tanggapan |
Uncategorized |
Permalink
Ditulis oleh rizky febriansyah